Judul : Seuntai Rindu dan Cinta dalam Bait Puisi
Penulis : Theresia Martini, S. Ag., M.M, dkk
Penerbit : CV. Anagraf Indonesia
Tahun terbit : 2023
Seuntai Rindu dan Cinta dalam Bait Puisi telah mempertemukan 22 penulis dengan gaya kepenulisan masing-masing.
Penulis-penulis ini menyumbangkan 186 judul.
Buku ini terbagi atas 3 bagian dengan keunikanya masing-masing
Bagian A merupakan awal dari buku ini.
Membuka bagian ini maka kita akan dihadang oleh puisi berjudul Gelitik Pendar Cahaya Cinta Kita.
Judul yang cukup panjang untuk puisi yang identik dengan kalimat singkat sarat simbol.
Puisi ini merupakan hasil kolaborasi apik antara Suhaimi, Theresia Martini, A. Soleh dan Mazmo.
Keempatnya merangkai 5 bait puisi yang begitu apik.
Kata-kata lugas mendominasi puisi ini sehingga pembaca bisa memahami maknanya tanpa mengerutkan kening.
Kolaborasi penulis dalam satu judul ini berlangsung sampai pada judul ke-101.
Penulis-penulis ini seakan punya ikatan batin yang kuat sehingga tercipta bait-bait yang padu.
Berbeda dari bagian sebelumnya, bagian B ini diisi oleh penulis yang masing-masing menyumbangkan 5 karyanya.
Meskipun suguhannya berbeda namun pesan yang ingin disampaikan oleh ke-17 penulis ini begitu kuat.
Semakin lama kita membaca maka semakin kita lupa untuk berhenti.
Terbuai oleh aroma kata sarat simbol dan metafora yang semakin menyeruak dari setiap bait.
Metafora seakan menghanyutkan sekaligus mendamparkan kita pada saat yang bersamaan.
Kita terhanyut oleh harapan dan terdampar pada renungan.
Salah satu puisi sarat simbol nan metaforis dapat ditemui pada puisi berjudul Bercanda Pada Rindu.
Puisi yang ditulis oleh Lis Andriani ini begitu mengaduk-aduk emosi.
Pilihan katanya membuat kita merenung sejenak untuk memahami kedalaman maknanya.
Disaat bersamaan, kita juga terasa akrab dengan situasi yang digambarkan oleh diksi pilihannya.
Di bagian ini pula dapat kita temui jenis puisi akrostik.
Perlu diketahui bahwa puisi akrostik adalah salah satu bentuk puisi dimana setiap baris terbentuk dari huruf awal pada judul puisi.
Karya unik juga dipersembahkan oleh Suprihationo Sardi melalui Baladanya yang membawa kita pada zaman Fir'aun
Terlepas dari lugas atau simboliknya kata yang digunakan, buku ini layak untuk dibaca.
Sebagai bahan perenungan dan refleksi terhadap harapan akan kehidupan yang lebih baik di masa datang
Bagian C merupakan bagian penutup dari buku ini. Bagian ini memperkenalkan setiap penulis melalui bionarasi.

