Malam sudah beranjak separuh, tapi mata kok gak bisa tidur ya. Pasti pengaruh kafein yang sempat kuminum di hajatan tetangga sore tadi. Kubuka layar laptop..ya…hanya kubuka tanpa tahu untuk apa. Iseng, kucoba membuka ChatGPT, siapa tahu ada ide tulisan. Diantara denting papan ketik, kutulis pertanyaan sederhana ke ChatGPT, sekedar ingin tahu seperti apa respon kecerdasan buatan yang lagi booming ini. Apakah benar-benar cerdas atau dicerdas-cerdaskan…hehehe…kalian pahamlah maksudku. Aku ingin mencoba membuat bionarasi singkat tentang diriku. Sederhana dan tak berlebihan. Namun, apa yang kudapatkan? ChatGPT memberikanku bionarasi yang ah...epik, luar biasa tapi konyol dan berlebihan, sampai-sampai aku menyemburkan tawa yang tak sekedar kekehan.
“Dengan senyum yang selalu merekah dan mata
yang berbinar penuh semangat, setiap hari adalah sebuah petualangan bagi
seorang guru SD yang selalu ceria dan suka tantangan. Di antara suara cekikikan
anak-anak dan aroma krayon, dia menemukan waktu untuk memeluk hobi berkemahnya,
merasakan kedamaian alam bebas dan gemerlap bintang malam. Namun,
petualangannya tak berhenti di sana. Di dunia digital, dia adalah seorang
pembuat konten YouTube yang inspiratif dan penulis blog yang penuh wawasan.
Setiap kata dan gambar yang dia bagikan adalah bukti dari semangatnya yang tak
pernah padam, selalu mencari dan mengejar tantangan baru dalam hidup”. Demikian bionarasi ala ChatGPT.
Masih menahan gelak. Seberlebihan itukah?. Meskipun demikian, ada sesuatu yang lucu dalam upaya mesin ini untuk memahami dasar kemanusiaan, tetapi pada akhirnya mereka hanya memberikan gambaran yang berlebihan dan nyaris tidak masuk akal. Ketidakmasuakalan inilah yang membuatku semakin tidak bisa menahan tawa. Seolah-olah ChatGPT dengan polosnya mencoba memberikan gambaran epik tentang seseorang, namun pada akhirnya justru terdengar konyol dan lucu. Ya...namanya juga kecerdasan buatan, ye kan? hehehe...
Ketika tawa reda, aku mulai berpikir. Di zaman teknologi
modern, kita sering terjebak dalam pandangan yang berlebihan tentang diri kita
sendiri. Media sosial penuh dengan foto-foto yang luar biasa, cerita hidup yang
selalu menyenangkan, dan pencapaian demi pencapaian yang kadang-kadang membuat
kita merasa tidak cukup. ChatGPT mungkin hanya reflek dari kecenderungan kita
saat ini: menciptakan gambaran diri yang berlebihan di mata dunia.
Apa yang benar-benar penting, bagaimanapun, adalah esensi
kemanusiaan kita—bukan gambaran yang berlebihan, tetapi fakta tentang siapa
kita, apa yang kita rasakan, dan bagaimana kita berinteraksi dengan dunia kita.
Bionarasi yang berlebihan dalam ChatGPT terkadang lucu, tetapi itu
mengingatkanku untuk selalu jujur dengan diri sendiri, untuk menghargai
realitas dan keunikan yang ada dalam diri kita.
Meskipun bionarasi itu lucu tapi Aku memperoleh pelajaran
berharga dari ChatGPT. Meskipun menyenangkan, itu bukanlah tujuan kehidupan
kita. Yang benar-benar penting adalah kejujuran serta kemampuan untuk tertawa
atas kekonyolan dan kesalahan orang lain. Salam

Tidak ada komentar:
Posting Komentar