Di ruang sunyi, waktu menguap,
Cinta terurai dalam debu-debu kata.
Kau adalah bayang yang tak lagi setia,
Menyelinap di antara lipatan mimpi yang patah.
Langit menangis dalam warna-warni yang pudar,
Setiap tetesnya adalah pecahan janji yang tercecer.
Aku berjalan di atas puing-puing kenangan,
Tersandung pada batu-batu dusta yang kau tebar.
Api yang dulu menyala, kini jadi abu-abu dingin,
Membeku di ujung jari yang tak lagi menyentuh.
Kau adalah lagu yang terhenti di tengah nada,
Meninggalkan gema yang hampa dan getar yang mati.
Di sini, aku berdiri,
Sebuah patung yang retak,
Menatap cermin yang memantulkan bayangmu,
Yang perlahan larut dalam kabut pengkhianatan.
Cinta?
Ia hanya kata yang terjatuh,
Terperangkap dalam labirin waktu,
Menjadi bisikan yang tak pernah sampai.
