“Sekolah seharusnya tempat tumbuh, bukan tempat tunduk. Tapi kadang, kita dituntut untuk menjadi pohon bonsai yang rapi, tapi tak pernah benar-benar hidup.”
Sava tidak pernah mengira satu tulisan bisa mengubah hidupnya. Padahal, ia hanya menuliskan apa yang ia lihat: Toilet sekolah bocor padahal dana renovasi sudah cair. AC kelas rusak tapi rapor kebersihan tetap “A+.” Guru lebih sibuk menyiapkan lomba ketimbang mengajar.
Tulisan itu ia unggah di blog malam Jumat. Judulnya: “Sekolahku, Pabrik Nilai dan Ketakutan.” Awalnya ia kira hanya lima orang yang akan membaca—ternyata lima ribu.
Sejak saat itu, Sava sadar: Yang paling ditakuti dari sekolah bukan ujian, tapi keberanian bertanya "kenapa?"
Diundang masuk, bukan untuk diberi penghargaan...
Keesokan paginya, namanya muncul di papan pengumuman, bukan sebagai juara, tapi sebagai terdakwa.
*Tamu Kepala Sekolah: Sava Ramaditya – Ruang BK jam 09.00.*
Di ruang itu, Bu Nila, guru BK yang biasanya berhati pastel, kini berwajah kelabu.
“Kamu tahu tulisan kamu bisa bikin sekolah kita kehilangan sponsor lomba nasional, kan?” katanya, setengah membujuk, setengah menggertak. “Ini bukan soal benar atau salah. Ini soal loyalitas. Kamu bagian dari institusi ini.”
Sava hanya menatap lantai. Ia ingin menjawab, “Sejak kapan menulis kebenaran jadi pelanggaran?” Tapi ia tahu, pertanyaan itu hanya akan memperpanjang daftar “pelanggaran.”
Sunyi di kantin, ramai di internet
Sejak itu, suasana sekolah berubah.
Di kantin, bangku di sebelahnya selalu kosong. Bahkan Raka, sahabatnya sejak SMP, hanya berani berkata lirih:
“Gue nggak pengin ikut-ikutan disorot, Sav.”
Tapi di luar tembok sekolah, suara-suara lain berdatangan.
*“Akhirnya ada yang ngomong juga!”*
*“Keep writing. Suaramu penting.”*
*“Terima kasih. Suara kamu, suara kami juga.”* (dari seorang guru honorer, anonim)
Namun tekanan makin nyata. Blog-nya diblokir lewat Wi-Fi sekolah. Orang tuanya dipanggil. Dan puncaknya: Ia diminta berbicara saat upacara, untuk "mengklarifikasi dan meminta maaf secara terbuka."
Senin pagi saat upacara bendera...
Sava berdiri di podium. Seragamnya rapi. Rambutnya disisir lebih patuh dari biasanya. Tapi di matanya, ada api kecil yang belum padam.
Semua hadirin menanti satu hal: permintaan maaf.
Tapi Sava membuka kertasnya pelan-pelan.
Sunyi hingga detak jarum jam terasa begitu nyaring. Pandangannya menyapu hadirin.
“Aku pernah belajar bahwa sekolah adalah tempat untuk tumbuh, bukan tunduk. Tapi aku juga belajar bahwa tumbuh itu menyakitkan. Apalagi saat pohon-pohon ditanam di pot yang tidak boleh pecah.”
Itu puisi. Bukan klarifikasi. Dan bukan permintaan maaf.
Ia tidak menyebut nama siapa pun. Tapi semua tahu siapa yang ia maksud. Saat Sava turun, lapangan sunyi. Lalu satu tepuk tangan. Lalu bertambah. Lalu riuh.
Sava diskors. Tapi blog-nya meledak. Artikel itu jadi materi diskusi nasional. Sekolahnya tak bubar, tapi temboknya mulai retak.
“Saya meminta maaf atas tulisan saya yang telah menimbulkan kegaduhan. Saya berjanji untuk menjaga nama baik sekolah.”
Semua guru lega. Kepala sekolah mengangguk puas. Upacara berakhir seperti biasa: bendera diturunkan, semua bubar.
Beberapa minggu kemudian, televisi nasional menayangkan lomba esai siswa se-Indonesia. Sava tampil sebagai finalis, membaca esai barunya.
Judulnya?
“Sekolahku, Pabrik Nilai dan Ketakutan.”
Kali ini tanpa sensor. Tanpa blokir. Ia tak menyebut nama sekolah. Tapi semua orang tahu.
Kepala sekolah mendadak cuti panjang. Sekolahnya kebanjiran undangan “untuk berbenah.”
Dan kamu, pembaca...
Pilihlah akhir yang kamu percaya. Apakah keberanian harus lantang dan terbuka? Atau kadang, diam bisa lebih membakar dari teriakan?
Yang jelas:
Tak ada yang lebih menyala dari suara yang tak bisa dipadamkan.
🍵 Suka dengan tulisan ini? Dukung Jalan Ninja Literia ya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar