🍵 Suka dengan tulisan ini? Traktir aku di sini ya!
Ijazah yang Berbisik di Bawah Beringin
Di sebuah desa yang terperangkap dalam lipatan kabut, bernama Solo tapi bukan Solo yang ada di peta, waktu berjalan seperti air yang mengalir ke arah langit. Di ujung desa, sebuah pohon beringin tua berdiri, akar-akarnya meliuk bagai naga yang lupa tidur. Di bawahnya, Joko, pemuda dengan mata seperti danau yang menolak memantulkan bulan, menemukan sebuah buku. Kulitnya hitam, berbau tanah basah, dan di sampulnya tertulis dengan huruf yang berpindah-pindah bentuk: Ijazah Langit Kelima.
"Ijazah ini bukan milik siapa-siapa," kata seorang kakek tanpa wajah, muncul dari kabut dengan jubah anyaman asap. Tangannya memegang pena yang meneteskan tinta emas, tapi tintanya menguap sebelum menyentuh tanah. "Ia adalah cermin. Siapa yang memandangnya akan melihat apa yang ia cari, tapi tak pernah apa yang ia temukan."
Joko, yang tak tahu apa itu universitas atau fakultas kehutanan, hanya mengangguk. Ia merasa telah menandatangani kontrak dengan angin. Buku itu, kata kakek, bisa membuatnya jadi pemimpin, tapi juga akan memanggil burung-burung gagak yang bernyanyi tentang dusta.
Hari-hari berlalu, dan Joko berjalan di antara rakyat, ijazah itu tersimpan dalam saku batinnya. Tapi desa tak pernah diam. Dari bayang-bayang muncul Rismon, lelaki dengan lensa kaca yang memantulkan cahaya aneh, seperti mata elang yang lapar. "Huruf ini tak lahir di 1985!" teriaknya, menunjuk ke ijazah Joko yang kini tergantung di langit, huruf-hurufnya berubah-ubah antara Times New Roman dan aksara Jawa. "Ini ilusi, ini tipuan!" Rismon membawa kitab teknologi, penuh angka dan fakta yang berderit seperti roda kereta yang kehilangan rel.
Langit Solo bergoyang. Burung-burung gagak terbang membentuk kata PALSU di udara, tapi huruf-huruf itu meleleh sebelum jatuh ke tanah. Rakyat desa berdiri di tepi jurang kebingungan. Sebagian memandang Joko, yang berkata, "Aku belajar dari hujan, dari pohon, dari tanah yang kering." Sebagian lain mengikuti Rismon, yang kini memegang dokumen-dokumen yang tak pernah selesai ditulis, menuduh ijazah itu lahir dari mimpi yang salah.
Lalu, dari kabut yang sama, muncul Tifa, perempuan tua dengan tangan penuh tinta merah dan buku-buku yang halamannya kosong. "Joko, tunjukkan ijazahmu!" suaranya seperti petir yang lupa arah. Joko mengeluarkan buku itu dari dadanya. Kertasnya bercahaya, tapi tak bisa disentuh. Huruf-hurufnya menari, kadang membentuk tanggal 5 November 1985, kadang 14 November, kadang hanya bayangan yang berbisik, "Kebenaran adalah cermin yang pecah."
Desa itu kini riuh. Rakyat berteriak, sebagian menuntut ijazah itu dibakar, sebagian ingin menjadikannya kitab suci. Rismon mengacungkan lensanya, Tifa menulis tuduhan di udara dengan tinta yang menguap, dan Joko hanya berdiri di bawah beringin, menatap buku yang kini mulai berbicara sendiri. "Aku bukan kebenaran," kata ijazah itu, suaranya seperti angin yang tersesat. "Aku hanyalah kertas yang kalian paksakan untuk bernyanyi."
Malam tiba, dan kakek tanpa wajah muncul kembali di bawah beringin. "Kalian semua mencari kebenaran," katanya, "tapi kalian hanya mengejar bayang-bayang cermin." Ia menunjuk Joko, Rismon, Tifa, dan rakyat yang kini saling tuding. "Ijazah itu tak pernah ada. Yang ada adalah keinginan kalian untuk menang."
Langit kelima terbuka, dan bintang-bintang membentuk sidang yang tak pernah usai. Joko tetap memimpin, Rismon tetap mencari, Tifa tetap menulis, dan rakyat tetap berteriak. Di bawah beringin, ijazah itu meleleh menjadi kabut, meninggalkan desa dalam tarian kebingungan abadi. Pohon beringin hanya berbisik, "Kebenaran adalah lagu yang tak pernah selesai dinyanyikan."
Tidak ada komentar:
Posting Komentar